Seputar Hokben

Sebuah SMS masuk ke no HP-ku, setelah di cek ternyata pengirimnya adalah dari nomor kantor. "Wah ada apa ini, kerjaan tambahan kah ?" Rasanya tidak habis-habis tugas kantor beberapa bulan ini, mulai dari bikin laporan, desain layout proposal, deadline pembuatan sistem informasi, input data, cek kabel jaringan, sampai rekap data manual.

Gado-gado ? yup itulah pekerjaan sehari-hari bagian saya -teknisi komputer-, pokoknya apa saja yang berkaitan dengan teknologi komputer bahkan elektronik harus ditangani. Nyambungkah ? ehm … nggak semua tugas yang diberikan nyambung. Itulah yang saya rasakan sampai saat ini, pimpinan pokoknya tahu beres. Ingin kualitas yang bagus, tapi dengan biaya serendah mungkin sehingga karyawan dituntut segala bisa, mungkinkah ? Mungkin, tapi jangan tanya masalah kualitas.

Aduh jadi ngelantur gini, ok dech back to the topic, SMS. Setelah dibaca ternyata isinya :

"Anda sebagai panitia Wisata 2006 harap siang ini tidak kemana-mana. Karena hari ini ada makan siang khusus untuk panitia, ditunggu saja OK!"

Bak mendapat durian jatuh, pas kantong lagi tipis habis kebanyakan liburan nasional :p. Benar saja, setelah sholat dzuhur aku mendapat bagian sebuah nasi kotak "Hoka-hoka Bento". DUG !!! bukannya senang aku malah bingung (bagaimana tidak bingung) terakhir aku dapat informasi, bukannya Hokben masih belum dapat label halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia). "Atau sekarang sudah ?"

Daripada ragu-ragu coba cek melalui internet :

Setelah melakukan pencarian melalui internet berdasarkan link di atas, Hokben belum tercantum dalam list makanan/ restoran yang mendapatkan sertifikasi label halal MUI. Karena itu kesimpulan saya Hokben masih termasuk golongan makanan yang dikatakan subhat (ragu-ragu), dimana buat seorang muslim lebih baik menghindari makan atau minum makanan dalam kategori ini. Akhirnya tidak jadi juga makan makanan enak, tetapi lebih baik begini daripada dimakan dengan perasaan ragu-ragu.

Lalu mau dikemanakan nasi kotak ini ? Dikasih ke orang lain ? Yeeeee !!! sama saja bo'ong, ngasih ke orang makanan yang nggak jelas. Menjerumuskan orang kan !!! Jadi kesimpulannya … duuuh bingungnya …

4 Comments to “Seputar Hokben”

  1. jesie 21 April 2006 at 6:51 am #

    kenapa bingung? buang saja HokBen-nya ke tempat sampah, toh kalo dimakan sampeyan jg dijerumus/terjerumus kan?

  2. yustin 27 April 2006 at 4:38 am #

    kalo dikasih ke orang yang ga perlu label halal/haram, boleh ga tuh ?

    *salam kenal buat orang Mangunharjo :D *

  3. tim 8 September 2006 at 4:02 pm #

    hehehe. jadi kesimpulannya apaan dong. btw, sekarang hokben dah ada menu baru tambahannya: nasi campur ketan item:
    http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/08/tgl/30/time/202720/idnews/665675/idkanal/10

  4. alex 24 February 2009 at 9:05 am #

    Hanya karena merasa ragu lantas tidak jadi makan dan dibiarkan saja? Itu namanya tidak mensyukuri anugrah Tuhan. Bayangkan betapa banyak orang-orang yang berjuang setiap hari demi sesuap nasi.

    Nasi yang tersedia adalah hasil jerih payah petani, daging-daging yang tersedia adalah pengorbanan hewan-hewan yang disembelih. Belum lagi sayuran dan lain-lainnya.

    Setiap makanan kalau disantap dengan tujuan menjaga stamina tubuh dan untuk kelangsungan hidup tentunya layak disebut halal.


Leave a Reply