Tradisi Indonesia I
Dua orang lelaki muda bergegas memindahkan perabotan mereka yang ada di lantai satu ke lantai dua rumah mereka. Entah apa yang membuat mereka terburu-buru melakukan hal tersebut tetapi yang pasti mereka melakukannya dengan hati gembira, terlihat senyum mengembang dari mulut mereka. Selesai memindahkan perabotan ke lantai dua, mereka mulai memakai perlengkapan renangnya. Lengkap dengan kacamata renang dan snorkel, mereka mulai berlari menuju jendela lantai dua. Tanpa aba-aba keduanya meloncat keluar dari jendela tersebut. Tidak disangka dan entah dari mana datangnya, air telah merendam daratan sampai setinggi lantai I rumah mereka. Itupun dialami oleh warga lain yang tinggal di sekitar rumah itu. Cerita ini ditutup dengan munculnya bapak-bapak dari dinas pemerintah daerah yang naik perahu karet bermotor sambil membawa megaphone. Sambil tersenyum, menyapa penduduk sambil melambai-lambaikan tangan, bapak-bapak tersebut berkata : “Bapak-bapak Ibu-ibu semuanya tenang, banjir telah datang … banjir telah datang …”
Itulah sekelumit penggalan cerita dalam sebuah iklan yang ditayangkan oleh media televisi di Indonesia. Entah apakah saya harus tertawa atau saya harus bersedih. Ironis memang, apabila banjir sudah dianggap hal yang wajar di negeri ini. Mungkin suatu saat nanti kejadian ini akan menjadi kisah nyata dalam kehidupan masyarakat di Indonesia apabila tidak ada keseriusan dan kesadaran oleh kita semua untuk menanggulagi masalah ini.
2 Comments to “Tradisi Indonesia I”
Leave a Reply

Untung daerah gw belum pernah kebanjiran
Kesadaran memelihara lingkungan orang Indo emang masih lemah.
Banyak tuh yang buang sampah dari mobil ke jalan. How annoying.
Tapi tempat sampahnya juga emang kurang sich. Kalo ada malah rusak.
Buang sampah sembarangan apalagi ke sungai bisa menyebabkan banjir. Minimal lingkungan jadi kurang cantik.
#1 Sempat deg-degan juga kalau ingat longsor di daerah jember kemaren, soalnya ortu tinggal disana. Tetapi untung tidak termasuk daerah yang terkena longsor. Fiuuuh …